Sabtu, 20 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

YouTube dan Apple Music Hadapi Momentum Besarnya

Penulis :
Jumat, 23/10/2015 12.43.35 | Dibaca: 1483




YouTube dan Apple Music Hadapi Momentum Besarnya

billboard


Compusiciannews.com -Industri- Sepanjang  minggu yang dimulai sejak 19 Oktober lalu, merupakan momentum dimana musik digital menemukan masa depannya. Lama didominasi oleh perusahaan-perusahaan peserta dan mandiri, pasar musik subskripsi digoncangkan oleh 2 perusahaan teknologi besar, yaitu Apple dan Google. Berita pada hari senin lalu mengatakan bahwa Apple Music telah mencapai 6,5 juta pelanggan berbayar dan pada hari Rabu (21/10) lalu YouTube Red diumumkan, yang merupakan layanan baru yang akan datang dari perusahaan Google yang membawahi YouTube, dan dua hal ini adalah langkah penting yang besar dalam membantu atau menarik konsumer untuk bertransisi dari membeli musik ke streaming gratis dan kemudian harus membayar secara bulanan. Jika lompatan dari kaset  ke CD harus melewati rintangan  yang cukup besar, begitupun dari unduh ke streaming berbayar memerlukan skala setinggi 10 kaki tembok.

Industri saat ini sedang bermasalah dengan tanjakan itu. terdapat 41 juta subscriber di layanan streaming dari semua jenis layanan di akhir 2014, menurut laporan Music Digital 2015 dari IFPI. Apple Music dengan cepat menjadi layanan musik subskripsi terbesar kedua dengan 6,5 juta pelanggan berbayar. Spekulasi sebelumnya merajalela pada 30 September lalu, dimana hari 3 bulan free trial  akan menjadi berbayar atau mereka membatalkan untuk melanjutkan langganan. CEO Apple Tim Cook telah mengumumkan  pada 6 Agustus lalu bahwa Apple Music telah menuai pengguna sebesar 11 juta pengguna trial. Namun pertanyaannya, akankah mereka masih bertahan saat masa trial-nya berakhir? Dan hasil pada hari Senin lalu membuktikan bahwa Apple membangun layanan yang menghubungkan dengan banyak orang.

Memperoleh 6,5 juta pengguna berbayar tidaklah mudah. Disamping dari Spotify, yang memiliki 20 juta pelanggan pada bulan Juni lalu, tidak ada perusahaan yang melebihi 4 Juta.  Deezer  memiliki 6,3 juta pelanggan, namun hanya memperoleh penerimaan separuhnya saja. Pandora, layanan radio internet yang mengenakan biaya US$10 per bulan dengan layanan on-demand, memiliki 3 juta pelanggan di akhir bulan Juni. Rhapsody, hanya melampaui 3 juta saja di bulan Juli.

Selebihnya, tidak ada layanan yang melebihi level ini dengan cepat seperti yang dialami Apple Music. Spotify mengambil alih 4 tahun untuk mencapai 6 juta. Dan seharusnya dicatat bahwa Spotify secara efektif telah melakukan pekerjaan kotor dalam memperkenalkan model bisnis ke audiens yang luas (contoh kasusnya Rhapsody dan Napster yang telah membantu SPotify). Dan pendekatan yang dilakukan Apple ini adalah yang merupakan hal yang jenius yang dilakukan untuk mempromosikan produk, intinya penentuan waktu adalah kuncinya.

Tidak semua orang kagum dengan pencapaian Apple. Beberapa masih ada yang mengkritik jika 6,5 juta pengguna itu “mengecewakan” dengan melihat jumlah pengguna iPhone di Amerika Serikat mencapai 94 juta sendiri. Media USA Today menekankan bahwa pengguna free trial Apple Music tidak dikonversi otomatis oleh Apple ke pelanggan berbayar. Banyak komentator dalam hal ini mencatat jarak antara Spotify dan Apple Music, tanpa menyebutkan peluncuran Spotify di tahun 2008.

Kritik yang sama dengan tidak diragukan akan ada untuk YouTube Red. Dengan 1 milyar pengguna di 70 negara, ini adalah layanan yang cocok dengan potensi Apple Music. Jika YouTube Red menampilkan secara spektakuler dan mendaftarkan, misal 25 juta pengguna berbayar dalam beberapa bulan pertama, mereka akan mewakili 2,5% dari audiens global. ini dapat menjadi gelombang yang dapat menaikan kedua kapal ini namun perlu diketahui bahwa saat gelombang naik, aka nada kapal-kapal lain yang dalam arti kompetitor lain yang dapat mengancam.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda