Jumat, 19 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Slamet A. Sjukur: Membunyi Sampai ke Pori-Pori

Penulis :
Sabtu, 20/12/2014 09.59.12 | Dibaca: 1838




Slamet A. Sjukur: Membunyi Sampai ke Pori-Pori

Liputan


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Masyarakat memang bebas memilih suguhan apa saja yang menarik bagi mereka, yang sanggup menghibur sampai ke lubuk hati. Termasuk musik. Banyaknya genre yang ada di hadapan kita seperti halnya menu prasmanan yang siap dipilih kapan saja.

Tetapi kita terlalu sering mendengar yang mainstream. Kita jarang mendengar musik “alternatif”, musik yang lahir bukan atas kepentingan industri, melainkan musik yang diciptakan benar-benar dengan gairah dan perenungan mendalam. Maka, setiap “tetes bunyi” yang muncul pun menjadi penting keberadaannya dan tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Itulah yang dikehendaki Slamet Abdul Sjukur, seorang seniman 79 tahun yang sangat menghargai bunyi sampai ke pori-porinya. Beberapa waktu lalu (16/12) ia mementaskan sedikitnya 5 karyanya di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul. Karya yang ditampilkan yaitu: Tobor (solo piano), Kabut (piano dan sopran), Dedicace (solo biola), The Source (piano, klarinet, cello), dan Gelandangan (suara laki-laki, karunding, dan sepatu). Pada sesi konser diputarkan juga dua film pendek tentang Slamet Abdul Sjukur yang dibuat oleh para sahabat-sahabatnya.

Acara ini merupakan rangkaian agenda yang diberi tajuk “Sluman-Slumun-Slamet”. Sebelumnya juga telah sukses diselenggarakan di Surabaya dan Jakarta. Sluman-Slumun-Slamet adalah sebuah simbol perjalanan yang terus bergulir dan penaklukan atas segala rintangan yang dihadapi. Ya, Slamet Abdul Sjukur yang telah melanglang buana ke banyak tempat di Indonesia maupun dunia sudah melampaui banyak peristiwa. Dan ia bertahan, konsisten. Setelah tinggal di Perancis selama sedikitnya 14 tahun, komponis ini lantas pulang ke Indonesia dan dianggap sebagai pioner musik alternatif (sering disebut pula musik kontemporer).

Sebelum agenda konser juga telah diselenggarakan program Kursus KilatKomposisi (14/12) di Sekolah Musik Indonesia, Yogyakarta, disambung dengan Kuliah Umum dan Bedah Karya Slamet (15/12). Kuliah Umum mengambil tema “Menyambung Mata Rantai Generasi dan Mewujudkan Ekosistem Musik yang Sehat”. Acara yang digagas oleh Art Music Today ini menjadi oase di tengah segala pilihan musik yang mendominasi layar kaca kita hari ini.

Penulis : Erie Setiawan

Editor : Yesaya Whisnu Wardhana

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda