Sabtu, 20 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Sejarah Kemunculan Musik ROCK N' ROLL (bagian 1)

Penulis :
Rabu, 31/07/2013 15.47.24 | Dibaca: 3063




Sejarah Kemunculan Musik ROCK N' ROLL (bagian 1)


Oleh: Arie Oktara

             Rock and Roll (selanjutnya disebut rock) mulai muncul sebagai genre musik di Amerika pada awal 1950-an sebagai hibrid musik produk budaya kulit putih country and western (C&W), serta produk budaya kulit hitam, yakni rhythm and blues (R&B). Tahun kemunculan rock tersebut adalah tahun di saat ketegangan rasial di Amerika Serikat sedang dalam titik kronis. Tahun ini juga tahun awal lahirnya Civil Rights Movement (pergerakan hak-hak sipil), pergerakan yang digelar oleh kelompok Afrikan Amerikan untuk menuntut persamaan hak dan perlakuan antara kulit hitam dan kulit putih. Ketegangan rasial antara kulit hitam dan kulit putih serta pergerakan hak-hak sipil adalah konteks sosial dan politik di Amerika yang melatari kemunculan Rock sebagai sebuah genre.

            Walaupun perbudakan dengan resmi diakhiri bersamaan dengan berakhirnya perang sipil pada tahun 1865, dengan dibebaskannya budak-budak di selatan Amerika oleh tentara Union, bukan berarti kehidupan masyarakat Afrikan-Amerikan mendadak menjadi lebih baik. Diskriminasi ras yang dilakukan oleh kelompok-kelompok rasialis fundamental beranggotakan kulit putih yang merasa bahwa kesejajaran antara mereka dan kulit “kelas dua” adalah suatu hal yang tidak masuk akal, membayangi kehidupan mereka.

Kelompok-kelompok rasialis yang menolak persamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih memang banyak bermunculan setelah perang sipil berakhir, terutama di daerah selatan Amerika. Yang paling terkenal dan mendapat dukungan luas adalah Ku Klux Klan. Didirikan pada tahun 1866 oleh para veteran tentara Konfederasi, bersamaan dengan dimulainya rekonstruksi oleh kongres Amerika. Fokus utamanya adalah mengembalikan kejayaan kulit putih yang luntur karena dihapusnya perbudakan di selatan paska perang sipil, dengan berupaya mencegah terwujudnya persamaan hak antar warganegara yang secara massif digelontorkan oleh pemerintah. Untuk mencapai tujuan kelompok, mereka menerapkan penggunaan teror dan kekerasan. Pembunuhan dan penindasan terhadap kulit hitam dilakukan secara membabi buta oleh kelompok ini. Namun, karena wacana penghapusan perbudakan serta penciptaan persamaan hak masih mendominasi, Ku Klux Klan hanya bertahan selama 4 tahun. Menyusul aksi-aksi protes terhadap praktek kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ini, pada tahun 1870 Ku Klux Klan dihapus oleh Presiden Ulysses S. Grant dan kemudian disahkan dengan dikeluarkannya Civil Rights Act pada tahun 1871.

Paska Civil Rights Act, aksi-aksi rasial tetap saja dilancarkan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. 1915, Ku Klux Klan kembali muncul.  Pengaruh kelompok ini malahan makin meluas. Detroit, Indianapolis, Chicago, Portland, Denver, Atlanta, Memphis, Knoxville, dan Dallas adalah kota-kota di daerah selatan, tempat kelompok ini memiliki pengaruh yang signifikan. Seiring dengan dimulainya perang dunia ke II, kelompok ini berkurang pengaruhnya karena diidentikkan dengan gerakan NAZI. Pada tahun 1920, kelompok ini mulai berkurang pengaruhnya dan sejurus menghilang. Gerakan ketiga kelompok ini muncul pada tahun 1946 di Atlanta dan mulai masif memasuki tahun 1950. Kekerasan terhadap kulit hitam semakin menjadi hal yang identik dengan kelompok ini.  

Munculnya kelompok rasialis tersebut kemudian diimbangi dengan munculnya kelompok-kelompok kulit hitam yang memerjuangkan hak-hak sipil bagi Afrikan- Amerikan. Di Amerika, pergerakan ini dikenal dengan American Civil Rights Movements. Gerakan ini mulai muncul paska perang dunia ke II berakhir. Gerakan pertama mulai muncul pada awal 1950an. Motif dibalik kemunculan kelompok-kelompok ini adalah opresi serta perbedaan perlakuan sebagai second class citizenship (warga negara kelas kedua) oleh warga kulit putih. Terutama di daerah selatan Amerika, perlakuan terhadap warga kulit berwarna (coloured people) memang mengenaskan. Akses mereka ke fasilitas-fasilitas publik seperti pendidikan, dibatasi. Pemisahan rasial (terutama di selatan Amerika) bahkan dilegalkan dengan peraturan-peraturan pemerintah. Doktrin “separate and unequal” menjadi kesimpulan dari peraturan-peraturan itu. Walhasil, jurang antara “white” dan “colour” semakin lebar. Alasan-alasan inilah yang melatari kemunculan kelompok-kelompok pejuang hak sipil bagi kulit hitam tersebut, sebagai counter guna mengimbangi kemunculan kelompok-kelompok rasialis kulit putih.

Era paska perang sipil sampai paska perang dunia ke II memang merupakan masa kelam hubungan antar ras di Amerika. Pada masa ini, jangan pernah membayangkan kulit putih berbaur dengan bebas dengan kulit hitam atau ras lain. Segregasi dan diskriminasi ras telah menjadi nilai yang melembaga pada masa ini.

Rasialisme di Amerika tidak hanya menciptakan segregasi antar ras. Tapi juga menciptakan jurang di selera musik. Kulit putih lebih suka mendengarkan lagu dan musik dengan genre musik Eropa, begitupun sebaliknya. Tahun 1920-an dan 1930-an misalnya, kala Jazz dan Blues mulai popular, kulit putih Amerika mulai banyak yang menikmati genre musik produk kulit hitam Afrika ini. Tapi mereka (kulit putih) lebih memilih mendengarkan musik Jazz dan Blues yang dimainkan oleh musisi kulit putih. Sementara musik Jazz dan Blues yang dimainkan oleh musisi kulit hitam tidak mendapatkan tempat di hati mereka. Kondisi ini (diskriminasi dan segregasi ras) mulai berubah ketika rock muncul.

Seperti Blues, banyak perdebatan mengenai kapan Rock and Roll muncul. Kata rock sendiri telah muncul pada tahun 1922: “My Man Rock Me With One Steady Roll”, dalam lagu di album blues Trixie Smith. Pada tahun 1940an kata rock juga digunakan oleh Roy Brown: "Good Rocking Tonight". Kata Rock (ing) sendiri pada waktu itu digunakan oleh kulit hitam sekuler sebagai bahasa slang, yang berarti berdansa atau seks.  Namun di bukunya, Glenn C Altshculer menjelaskan bahwa kata Rock and Roll pertama kali diperkenalkan oleh seorang DJ radio di Cleveland yang bernama Alan Freed.

Mulanya, Alan Freed menyadari keadaan yang sedikit dipaparkan di atas. Bahwa banyak musisi kulit putih Amerika yang senang memainkan musik budaya kulit hitam: R&B, Jazz, serta Blues namun audiensnya hanya terbatas pada kulit putih saja. Memahami hal ini, Alan Freed kemudian mencoba mengawinkan musik kulit putih dengan musik kulit hitam di radio tempat ia bekerja. Ia berharap audiensnya akan lebih luas. Harapan Freed terkabul. Musik yang ia putarkan mendapat antusiasme yang tinggi dari remaja kulit putih dan kulit hitam. Semakin lama audiens musik yang ia bawakan di acaranya semakin banyak. Alan Freed pun kemudian mengadakan konser campuran musik hitam dan putih tersebut pada tahun 1952. Ia menamakan konsernya “Moondog Coronation Ball”. Dalam konser ini, yang hadir masih dimayoritasi oleh kulit hitam. Namun lama kelamaan, seiring makn meluasnya penggemar musik yang ia sebarkan, konser yang ia adakan mulai dihadiri oleh audiens multi ras. Hitam dan putih.

Culture hybrid (antara kultur musik kulit putih dan kulit hitam) pada musik rock menjadi pemantik yang menyebabkan para remaja kulit putih mulai menentang segregasi ras yang mewabah di Amerika. Kemunculan musik Rock menjadi titik awal bersatunya remaja kulit hitam dan kulit putih dengan berbaurnya mereka dalam konser-konser rock yang kerap diadakan seiring populernya rock sebagai sebuah genre.konser rock adalah ruang publik pertama, tempat remaja Amerika berkumpul tanpa memandang batasan hitam-putih.  Meluasnya pengaruh musik rock di kalangan remaja Amerika juga menjadi awal dari tumbuhnya nilai baru dalam diri mereka.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda