Selasa, 21 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

Revolusi MIDI, Teknologi Massa yang Menyatukan Musik

Penulis :
Senin, 07/04/2014 00.00.00 | Dibaca: 2207




Revolusi MIDI, Teknologi Massa yang Menyatukan Musik


 

Compusiciannews.com – Perangkat – Anda mungkin tidak mendengarnya, tapi teknologi ini sudah ada lebih dari 30 tahun dan tidak pernah berubah hingga sekarang. Bahkan, mungkin penciptanya pun tidak pernah membayangkan kehebatan karyanya. Ya, di era musik kontemporer ini belum ada yang menyamai kemampuan menerjemahkan secara universal lebih daripada MIDI.

Singkatnya, MIDI seperti sebuah jalan atau cara bagi komputer untuk memahami instrument musik. Sejak tahun 1983, ketika teknologi pertama kali didemonstrasikan dalam sebuah presentasi di National Association of Music Merchants, synthesizers berdiri sendiri sebagai instrument elektronik yang tidak dapat tersambung dengan komputer. Namun, ide untuk MIDI kembali ke tahun 1978 ketika engineer dan desainer synthesizer bernama Dave Smith mengeluarkan Prophet 5, yaitu salah satu instrument musik paling awal yang termasuk microprocessor.

Setelah kemunculan ciptaan Smith ini, sejumlah desainer membuat synthesizer yang sama dengan dilengkapi kompatibilitas digital. Hal ini berarti bahwa mereka bisa berkomunikasi secara digital satu sama lain, tapi tetap dengan proses yang rumit. Tidak ada cara standar bagi instrument-instrument tersebut untuk bisa terhubung.

Kemudian di awal 80-an, banyak pihak menyadari bahwa untuk mewujudkan sebuah interface yang dapat berkomunikasi satu sama lain adalah hal konyol. Smith mengatakan “kami menyadari bahwa industri musik akan tumbuh lebih besar, sehingga kita harus punya cara umum untuk melakukan hal seperti ini.”

Smith kemudian bekerja dengan tim desainer untuk menciptakan apa yang disebut dengan Musical Instrument Digital Interface (MIDI). Sebuah teknologi yang menyatukan antara synthesizer dan komputer.

Kebanyakan synthesizer bekerja ketika tombol pada keyboard ditekan sehingga menghasilkan arus listrik yang kemudian berubah menjadi suara melewati amplifier dan speaker. Namun, MIDI berbuat lebih, yaitu merubah hal tersebut menjadi sesuatu yang bisa dipahami komputer.

Tom White, CEO MIDI Manufacturers Association mengatakan, “MIDI adalah teknologi yang akan mendigitalkan proses tersebut. Sebenarnya bukan menciptakan tegangan, tapi ada serangkaian nomor yang dihasilkan setiap kali pengguna menekan kunci atau memutar kenop pada synthesizer. Seperti keajaiban, bagian terbaiknya adalah selama itu adalah nomor maka komputer akan dapat memprosesnya. Jadi yang terjadi adalah pengguna dapat memainkan sesuatu pada synthesizer, kemudian komputer dapat menyimpan, memutar kembali atau mengeditnya.

Sebagai contoh, misalkan kunci C tengah pada keyboard yang terhubung ke laptop ditekan, maka MIDI akan memuat berbagai informasi tentang nada tersebut seperti timbre, panjang, volume, dan lain-lain menjadi kode yang dapat diubah oleh komputer. C tersebut dapat berubah menjadi D atau ditarik dengan panjang dua kali. Ya, kemungkinan tidak akan pernah terbatas, bahkan tidak hanya keyboard yang dapat dihubungkan. Dengan pengaturan yang tepat, gitar elektrik, biola, bass dan hampir semua instrument dapat dimainkan dan dimanipulasi dengan MIDI.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa MIDI ada dimana-mana? Hal ini erat kaitannya dengan maksut dari penciptanya sendiri. Ketika itu Smith yang disebut sebagai ‘the father of MIDI’ dengan perusahaan Sequential Circuits telah mengatur pertemuan dengan perusahaan keyboard Roland, Yamaha, Korg dan Kawai.

Smith mengungkapkan “tidak harus menjadi sempurna, tapi kami ingin punya sesuatu yang bisa disetujui semua orang dan kami ingin memberikannya, karena kami ingin meyakinkan bahwa MIDI bisa diadopsi secara universal. Saya bahkan tidak ingat pernah membicarakan soal kemungkinan royalty atau biaya lisensi. Asumsi kami hanya akan memberikan teknologi ini.”

Maka, keputusannya adalah MIDI diizinkan untuk melakukan perjalanan jauh alias digunakan secara luas. Sebagai input di dunia musik, MIDI digunakan untuk mengontrol show cahaya dan animatronik. Bahkan, MIDI juga digunakan untuk menghasilkan nada dering di awal kemuculan ponsel.

Dahulu, MIDI pertama kali digunakan untuk menghubungkan satu synthesizer ke perangkat lain adalah ketika digunakan untuk mengontrol air mancur di Bellagio Hotel, Las Vegas. Dampaknya pada industri musik adalah diakuinya Smith dan patner kolaborasinya, Ikutaro Kakehashi, yang kemudian memenangkan Grammy untuk pekerjaan teknis tersebut.

Salah satu pengguna MIDI, Holly Herndon, seorang musisi elektronik, menggunakan MIDI dengan beberapa cara.

“Saya menggunakan MIDI controller ketika saya tampil secara live dan juga ketika saya menulis,” tutur Herndon. Sebagai pengganti keyboard, kontroller memiliki tombol, kenop, dan fader geser yang dapat memetakan suara pada komputer.

“Mungkin ini semacam interface piano Western, namun bukan cara terbaik untuk menulis lagu. Sayangnya, itulah yang menarik dari MIDI. Mungkin cara terbaik untuk menulis lagu adalah dengan mengubah kenop dengan cara tertentu atau menggunakan faders. Saya pikir hal tersebut tidak untuk berlebihan, tetapi semacam merevolusi cara-cara kita dalam membuat komposisi,” pungkas Herndon.

Sebuah revolusi dilahirkan atas keinginan untuk terkoneksi dan berkolaborasi, dan bukan soal uang.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda