Kamis, 23 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

Musisi Versus Akuntan

Penulis :
Kamis, 02/10/2014 10.00.00 | Dibaca: 1772




Musisi Versus Akuntan

aspirasisoft.us


CompusicianNews.com -Sosial Budaya- Inilah bedanya dengan musisi. Pada suatu ketika di sebuah sesi rekaman, seorang pemain piano salah pencet satu nada. Si pianis ingin mengulanginya kembali karena tidak perfect.  Namun niat ini dicegah oleh si tukang rekam, ia bilang: “biarin aja, malah asyik, gak fals kok, ini justru manusiawi, biar ngga saklek kaya mesin.” Dalam musik, keliru dibilang manusiawi, dan justru menjadi nilai keindahan tersendiri. (?)

Kalau dipikir-pikir, musik sebetulnya sangat dekat dengan dunia matematika sebagai dasar ilmu akuntansi, hanya saja logika dalam musik sangat sederhana, kecuali dalam musik komputer yang memakai logika algoritma yang cenderung lebih rumit.  

Dalam kondisi tertentu kadang-kadang bermain musik juga butuh konsentrasi tinggi ketika harus menghitung birama dengan benar, betul-betul tidak boleh keliru seperti kerja kasir. Ketika kita salah masuk pada saat jatahnya masuk juga bisa menjadi suatu permasalahan besar yang merugikan banyak pemain lainnya, misalnya ketika bermain di orkestra dengan total pemain sebanyak 60 hingga seratusan. Dalam sebuah repertoar musik orkestra yang terdiri dari ratusan, bahkan bisa hingga ribuan birama, para pemain musti berkonsentrasi menghitung, meskipun menghitung cukup dengan hati, tidak perlu diucapkan. Konsentrasi yang tinggi dalam musik diperlukan ketika sedang membaca karya besar seperti Symphony karya komposer terkenal semacam Beethoven, Mozart, Tchaikovsky, dan lain-lain.

Setiap pekerjaan selalu mengandung risiko tersendiri. Pekerjaan menjadi musisi sangat terkait dengan risiko sosial, misalnya bagaimana musisi menjaga attitude-nya supaya ia bisa tetap bertahan dan tidak dikucilkan masyarakat. Risiko sosial ini jauh lebih berat dibanding risiko antara pekerja dan bos dalam sebuah perusahaan. Menjaga sikap sangatlah penting artinya. Dunia musik cukup rawan juga ternyata ketika bersenggolan dengan dunia bisnis. Musisi juga butuh kejujuran, keramahan, kerendahhatian, dan segala norma-norma yang sanggup “mempertahankan” sosok musisi di tengah dinamika sosial musik yang makin hari makin berjubel.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda