Rabu, 20 Maret 2019

Music Technology Lifestyle

Musik Digital, Masa Depan yang Membunuh Toko Musik?

Penulis :
Selasa, 08/04/2014 01.45.03 | Dibaca: 2944




Musik Digital, Masa Depan yang Membunuh Toko Musik?


CompusicianNews.com – Industri – Perkembangan teknologi yang kian pesat ternyata membawa dampak luar biasa dalam kehidupan manusia. Khusus bicara industri musik, kemajuan teknologi telah membawa masyarakat mengenal musik digital.

Kira-kira kapan terakhir kali Anda membeli dan mendengarkan CD musisi kesayangan Anda? Mungkin kebanyakan justru sudah melupakan tradisi membeli dan mendengarkan lagu melalui CD. Keberadaan smartphone, tablet, dan perangkat lain membuat Anda beralih. Sehingga, menjadi lebih mudah menyimpan dan mendengarkan lagu dimanapun dan kapanpun.

Sekalipun smartphone atau tablet lebih banyak digunakan untuk bekerja, biasanya orang akan memiliki perangkat lain seperti halnya iPod atau pemutar musik lainnya. Teknologi juga akan memudahkan Anda yang ingin menghubungkan pemutar musik digital dengan perangkat audio mobil.

Sudah bisa dipastikan bahwa musik digital adalah masa depan yang secara perlahan menggantikan musik fisik. Siemer Ventures, sebuah lembaga investasi dari Bank Siemer & Associates LLC telah memprediksi keunggulan penjualan musik digital diatas musik fisik di tahun 2017.

Bisnis musik digital bukan sekedar jual beli melalui toko musik digital seperti iTunes, tetapi jauh ke depan menyasar pada teknologi streaming. Layanan streaming di Indonesia sekarang ini memang masih kurang diminati. Pasalnya, penggunaan dan ketersediaan koneksi internet masih belum merata dan secanggih di negara-negara lain.

Di Amerika misalnya, layanan musik streaming menjadi model bisnis yang sangat menjanjikan, sebut saja Pandora, iHeartRadio via Clear Channel, Spotify, serta YouTube dan Vevo. Tercacat, pendapatan dari layanan streaming musik online telah mencapai 40% atau sekitar Rp 11 triliun di tahun 2012.

Perusahaan-perusahaan digital raksasa seperti Google Inc dan Apple juga menyatakan kesiapannya untuk terjun ke bisnis tersebut. Diperkirakan bahwa pendapatan dari layanan download dan streaming akan terus bertumbuh hingga mencapai 12% per tahun atau sekitar Rp 111 triliun. Sedangkan untuk pasar industri musik secara global justru akan menyusut ke angka Rp 260 triliun di tahun 2016.

Namun, hal inilah yang kemudian muncul dan menjadi polemik. Beberapa pihak merasa dirugikan atas perkembangan teknologi yang membawa musik digital ke masyarakat. Salah satunya adalah Richard Branson, CEO dan pendiri dari Virgin Music. Ia menganggap bahwa musik digital, smartphone dan tablet membawa dampak negative bagi industri musik fisik. Secara gamblang, ia menyalahkan Apple dan Internet yang telah membunuh bisnis toko musik.

Pria berusia 61 tahun yang sempat diwawancara stasiun radio Perancis, Europe 1, menyebutkan bahwa matinya toko music Virgin Megastore di seluruh Eropa dan Amerika Serikat adalah akibat kemunculan smartphone dan aplikasi musik.

Tercatat, Virgin Megastore yang membuka usaha hampir di seluruh dunia memang telah menutup tokonya di Inggris, Irlandia, Perancis, Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Irlandia, Australia, Kanada, dan Jepang. Virgin Megastore hanya menyisakan usahanya untuk beroperasi di UES, Mesir, Kuwait, Yordania, Bahrain, dan Qatar.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda