Sabtu, 20 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Melihat Pilpres 2014 Dari Pola Pikir Musikal

Penulis :
Selasa, 15/07/2014 09.42.59 | Dibaca: 2419




Melihat Pilpres 2014 Dari Pola Pikir Musikal

media.viva.co.id


CompusicianNews.com -Sosial Budaya- Musical thinking (pola pikir musikal) mungkin tidak begitu dikenal seperti design thinking (pola pikir desain) yang hari-hari ini menjadi trend di bicarakan di tengah maraknya industri kreatif.  Tetapi sebenarnya, pola pikir musikal patut dipikirkan sebagai alternatif dari pola pikir desain yang jauh lebih luas batasannya.

Pola pikir musikal mampu memberikan sudut pandang yang unik dalam melihat sebuah permasalahan dan melihat solusinya.  Soekarno adalah seorang seniman dan sangat musikal. Anaknya, Guruh Soekarno Putra jelas memperlihatkan bakat seni yang mengalir dari Bapak proklamator ini.

Sampai hari ini pemikiran-pemikiran Soekarno yang sangat lateral membuat kadang susah diikuti dan sangat berorientasi masa depan.  

***

Dalam Pilpres 2014, pertarungan antara kubu Jokowi-Prabowo bagaikan tension dan release dalam musik.  Tanpa tension, musik jadi hampar.  Terlalu banyak tension, musik jadi tidak nyaman untuk didengar dan kurang mengalir.  Ketenangan Jokowi menjadi sebuah oase dan release, kegarangan Prabowo bagaikan tension yang membikin "ajeb-ajeb" di hati.

Harmoni dari relase dan tension inilah yang membuat indahnya sebuah musik.  Estetika bermusik inilah yang perlu para politisi punyai.  Seorang Soekarno hanya membawa bendera pusaka tatkala keluar dari istana karena diusir Soeharto.  Tapi dia memilih jalan itu daripada perang antara angkatan darat dan udara.  Seokarno memilih jalan yang indah, bagaikan komposer dia membuat lagu indah buat Indonesia.  Mengharukan.

***

Saat ini, ketegangan hasil quick count dan kecurangan-kecurangan yang di jumpai di KPU membuat musik Indonesia tidak indah, harus segera direlease.  Rakyat Indonesia mulai terdistorsi dengan musik yang terlalu keras bernyanyi "aku mau presiden".    

Alangkah indahnya kalau yang bertensi mau mereleasekan tensinya secara sukarela tanpa harus dipaksa.  Bagaikan musik yang berdinamika dengan smooth diminuendo.  Kalau saja semua politisi bisa mengerti indahnya musik, rakyat tidak akan setegang ini.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda