Minggu, 21 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Lewat Pikiran , Pasien Dengan Keterbatasan Fisik Dapat Mengontrol Musik

Penulis :
Kamis, 27/11/2014 15.07.06 | Dibaca: 1619




Lewat Pikiran , Pasien Dengan Keterbatasan Fisik Dapat Mengontrol Musik

http://www.popsci.com/


CompusicianNews.com -Sains- Pasien yang lumpuh dapat memainkan musik dengan pikiran mereka dengan menggunakan interface kontrol otak yang baru yang mensensor denyut otak dan menerjemahkannya kedalam notasi musikal.

Pengguna harus mengajar diri mereka untuk mengasosiasikan sinyal otak mereka dengan tugas spesifik yang menyebabkan aktivitas syaraf yang scanner otak dapat ambil. Dan kemudian mereka dapat membuat musik.

Penggunaan interface komputer otak ini sangat unik yang kemudian sudah digunakan untuk melakukan hal-hal seperti menyetir mobil, mengotrol robot dan memainkan video game. Alat ini dikembangkan oleh Eduardo Miranda, komposer dan specialist musik komputer di University of Plymouth, Inggris Raya. Miranda berkata dia terpukau oleh ide penggunaan interface yang terkontrol otak musik untuk tujuan therapeutic. “Sekarang saya dapat memisahkan kegiatan saya sebagai komposer,” begitu katanya kepada media Nature News

Pasien dengan gangguan neurodegenerative seperti Parkinson atau Alzeimer dapat menggunakan musik untuk berjalan ke ritme atau bahkan menghasilkan memori atau emosi. Namun pasien yang mengidap strok tidak dapat berinteraksi  selain hanya mendengarkannya saja. Dengan sistem ini, pasien dengan batasan fisik dapat menggunakan musik sebagai terapi juga, atau kata lainnya menjadikan musik sebagai obat pikiran.

Seperti pada interface komputer otak lainnya, pengguna dapat menyesuaikan sistem dan otaknya dengan bekajar mengasosiasikan sinyal otak tertentu dengan stimulus. Sementara menggunakan topi EEG, pasien memusatkan perhatian mereka pada tombol kecil pada layar komputer, yang masing masing menghasilkan serangkaian notasi musik.

Miranda dan ilmuwan komputer di University of Essex menguji sistem pada pasien dengan sindrom strok, yang mempelajari sistem dalam waktu kira-kira 2 jam dam kemudian memainkan notasi bersamaan dengan backup track.

Dengan meragamkan level konsentrasi, dia belajar untuk meragamkan amplitude EEG yang memungkinkannya untuk memilih diantara notasi yang berbeda, seperti menekan kunci-kunci pada piano.

Versi masa depan dari sistem ini tidak akan memerlukan kalibrasi dengan bergantung pada algoritma yang sudah maju untuk mensensorkan respon syaraf pengguna ke masing-masing tombol, begitu kata peneliti.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda