Sabtu, 23 Maret 2019

Music Technology Lifestyle

Jonathan: Drumer “Rakus” yang Dahsyat Juga Ternyata

Penulis :
Selasa, 16/06/2015 09.00.00 | Dibaca: 1572




Jonathan: Drumer “Rakus” yang Dahsyat Juga Ternyata

Foto: Wisnu Djawanai


Compusiciannews.com -Pendidikan- Drum selalu identik dengan gebukan-gebukan. Kadang terasa "tenang" dan kadang "tak beraturan" jika tiba saatnya harus "mengamuk".  Sebagai instrumen yang tugasnya memberi kendali atas rhythm, drum memiliki tanggung jawab yang tidak sederhana, yaitu membuat siapapun yang tengah bermain dengannya tetap teguh dalam tempo, tidak selingkuh iman-nya, tetap menghitung dalam keadaan stabil, seperti ketika kita mengamati komitmen jarum jam. Begitu besar dan penting jasanya. Maka, meskipun letaknya paling belakang, sesungguhnya drum merupakan seorang Imam yang kodratnya memimpin: Ing Ngarsa Sung Tuladha, kata orang Jawa. 

Malam itu [Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, 12/6], Jonathan Dangawa, telah membuktikan apa saja yang menjadi kemampuan instrumen drum itu sendiri. Mulai dari kemampuannya menghasilkan bunyi, menciptakan pola ritme, menjaga tempo, mengolah dinamika, hingga aspek-aspek sejarah dan filosofis yang mendasar, sehingga kita tidak hanya sedang menonton atraktifnya dua tangan dan dua kaki, namun juga merasakan kenikmatan bunyinya dan berkesempatan mendapatkan wawasan lebih banyak dari instrumen yang sering pula disebut dengan drum-set atau set-drum ini.

Sangat wajar bagi Jonathan, karena tugasnya malam itu adalah menggenapi serangkaian peristiwa serius yang telah ia jalani sebelumnya. Puncaknya adalah konser tunggal sekaligus puncak dari studi sarjananya ini. Eksplorasi terhadap Swing menjadi fokusnya malam itu. Dengan menggandeng 19 musisi, Jonathan telah berhasil menyajikan apa yang ia idam-idamkan sebelumnya: Memukul sekeras-kerasnya, membuktikan kepada siapapun bahwa ia mampu melakukannya.

Energinya memainkan sembilan karya selama konser nyaris tidak kendor hingga di repertoar terakhir, bahkan semakin memuncak. Saat tiba di komposisi dengan judul yang agak unik, Alien Bali, seolah kita tidak menyangka bahwa hanya dari dua instrumen: gitar elektrik dan drum, ditambah bunyi-bunyi dari piranti lunak komputer dan efek gitar, kita bisa merasakan suasana yang lain dari karya-karya sebelum atau sesudahnya. Komposisi yang dikerjakannya bersama gitaris Galih Ramadhan ini cukup mengundang daya pikat bagi audiens yang menontonnya. Seolah Alien benar-benar datang malam itu, dengan diasosiasikan dari bunyi-bunyi melengking yang muncul dan hilang begitu saja.

Tak kalah menariknya adalah komposisi berjudul Anissah Songs, yang instrumentasinya terdiri dari drum, vokal, suling, darbuka, kendang, rebana, bass, dan gitar. Karya yang pada sedikit bagiannya terdapat kadensa antara kendang Sunda [Dimas] yang khas sambil bersaut-sautan dengan drum dan darbuka [Shafur] ini telah menunjukkan kekayaan sekaligus dimensi peleburan atas bunyi perkusif yang begitu luas ragamnya di dunia ini.

Maka, Jonathan yang sehari-hari “hidup dalam ritme” berpeluang membuat musik dari apa saja, itu wajar karena perkusif merupakan sifat dasar yang alamiah, seperti detak jantung yang selalu ada dalam tubuh manusia. Ritme hidup pun senantiasa berubah menyesuaikan berbagai kondisi. Drum mewakili banyak hal untuk memberikan pemahaman simbolis tentang ritme kehidupan itu sendiri.

Sebagai pemuda 20-an tahun, Jonathan adalah sosok yang tekun dan selalu gelisah dengan apa yang ia jalani untuk menemukan pengalaman sebanyak mungkin dari apa yang ia jalani ketika bermusik. Ia adalah tipe drumer yang “rakus”—mencoba apa saja, bermain drum untuk musik apa saja. Tak hanya jazz yang kini memang lebih banyak ia tekuni, tapi juga merasakan musik-musik lain yang sebelumnya belum pernah menjadi pengalamannya.

“Apa yang saya capai malam ini adalah hasil dari pergumulan saya selama sekian tahun dengan drum, mulai dari bermain rock, jazz, hingga kolaborasi lintas disiplin,” ujar pemuda asal Bandung ini. Konser malam itu boleh dikatakan puncak, namun bisa dikatakan pula sebagai upayanya untuk memulai sesuatu yang lebih serius lagi ke depan. Ada banyak peluang untuk ia menjadi Master dalam arti yang sebenar-benarnya. Selamat. 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda