Sabtu, 25 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

Grey Filastine, Software Musik dan Ember Bekas Bisa Jadi Musik

Penulis :
Minggu, 06/04/2014 00.00.00 | Dibaca: 2063




Grey Filastine, Software Musik dan Ember Bekas Bisa Jadi Musik


 

CompusicianNews.com – Panggung – Grey Filastine adalah seorang musisi dan seniman audio visual kelahiran Los Angeles dan bertempat tinggal di Barcelona. Namun, Filastine memang lebih sering nomaden alias berpindah-pindah tempat tinggal untuk urusan bermusik.

Filastine adalah salah satu musisi yang dapat bermain apik di atas panggung dengan memadukan berbagai instrumen, baik akustik maupun digital. Ia membawa midi controllers dan iPad untuk mengontrol beragam instrumen tanpa kabel. Tidak ada keyboard atau perangkat DJ, namun ada berbagai object atau instrumen bunyi yang ia gunakan. Hasilnya, musik elektronik bisa berpadu dengan element akustik.

Ia mampu membuat musik bass trans-national yang bertabrakan dengan frekwensi terendah pada dubstep, yaitu musik elektronik asal London Selatan. Di atas panggung, terkadang ia membawa berbagai peralatan dapur hingga ember-ember bekas bahkan keranjang belanja. Musik Filastine dinilai mengandung beat dengan ilmu pengetahuan yang tinggi, strings akustik, dan nuansa jalanan yang riuh.  

Ya, bagaimana software musik dan midi controller bisa berpadu dengan berbagai instrument bunyi bekas, mungkin hanya Filastine yang bisa menjelaskannya.

“Semua bunyi atau suara sifatnya horizontal. Tak peduli komputer baru atau lama, drum yang terbuat dari kayu atau plastik, bahkan peralatan bekas yang tidak terpakai. Jika suara itu bagus dan bisa dipadukan dengan baik, gunakan saja.”

Filastine memulai debutnya dengan meluncurkan Burn It yang dirilis oleh DJ Rupture di tahun 2006 dan banyak mendapat pujian kritis. Album ini ternyata banyak diminati di dunia hingga akhirnya mendapat lisensi dan dirilis ulang oleh beberapa label di Perancis, Jepang, dan Amerika Serikat. Setelahnya, Filastine kembali merilis album kedua di tahun 2009 berjudul Dirty Boom melalui aliansi label yang dipimpin musisi electro-dub asal Perancis, Jarring Effects.

Tercatat, Filastine bisa tampil hingga seratus konser per tahun. Ia sering menggunakan perkusi untuk mengontrol loop dan mensinkronkannya dengan video. Filastine bisa tampil diberbagai tempat, mulai dari klub malam di Tokyo, stadion sepak bola di Casablanca, tempat parkir di Kalimantan, hingga melakukan tour di Amerika dan masih banyak lagi.

Sebelum membuat musik elektronik, Filastine bermain bersama Infernal Noise Brigade, sebuah marching band yang didirikan untuk Battle of Seattle. Filastine lanjut menggunakan audio sebagai alat untuk melakukan intervensi politik dengan Sound Swarm, sebuah orkestra yang menggunakan megafon, sepeda, pemancar radio bajakan. Ketika itu aksi bermusiknya didedikasikan untuk mendukung Occupy Movement.

Musim semi 2012, Filastine meluncurkan Loot sebagai album ketiganya. Loot dibuat bersama dengan video-video yang menyertai setiap track-nya. Bahkan, album ini diluncurkan dalam satu tahun konser di tiap-tiap benua di dunia. Filastine juga melakukan proyek duo bersama seorang vokalis wanita asal Malang, Indonesia bernama Nova.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda