Kamis, 21 Maret 2019

Music Technology Lifestyle

Delegasi – Delegasi SIPA 2017 Hadirkan Berbagai Mahakarya Seni, Salah Satunya “Cry Jailolo”

Penulis :
Rabu, 06/09/2017 09.00.00 | Dibaca: 772




Delegasi – Delegasi SIPA 2017 Hadirkan Berbagai Mahakarya Seni, Salah Satunya “Cry Jailolo”

Para penari "Cry Jailolo" Dokumentasi SIPA 2017


Compusiciannews.com -Panggung- Solo International Performing Arts atau SIPA yang tahun ini mengambil tema Bahari Kencana Maestro Karya, diadakan pada 7-9 September  2017 di Benteng Vastenburg Solo, memberikan pesan untuk menjaga , merawat dan mencintai laut nusantara dan dalam perhelatan kali , beberapa delegasi dari dalam maupun luar negeri akan menyuguhkan mahakarya-mahakaryanya.

Delegasi yang hadir di SIPA 2017 ini antara lain Eko Supriyanto, sekaligus maskot SIPA 2017 (Solo), Sanggar Semarak Candra Kirana (Solo), EkosDance Company (Solo), GAYAGAYO (Gayo Lues, Aceh), Otniel Tasman (Banyumas), Teater Tetas (Jakarta), Danang Pamungkas (Solo), Sanggar Seni Jinggo Sobo (Banyuwangi), Riau Rhtym Chambers Indonesia (Riau), Sanggar Tiara Selatan (Bangka Selatan), Vivian Evelyn dan Revaldi Gustaf (NTT), mereka adalah delegasi delegasi dalam negeri yang meramaikan pentas seni bertaraf internasional ini.

Untuk delegasi luar negeri, ada Melanie Lane (Australia), Silhoutte Art Perfomance (Malaysia), Joel Inzunza (Chile), La Salle Teatro Gundegan (Filipina), Azpirasi (Singapura), Nor Silp: Art Sprouts (Thailand) dan Hoang Manh Lam & Nguyen My Huong (Vietnam).

Salah satu sajian yang akan ditampilkan di panggung SIPA bahari kali ini adalah Cry Jailolo yang akan dibawakan oleh EkosDance Company dengan mendatangkan langsung para penari dari Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.  Cry Jailolo terinspirasi oleh tarian Legu Salai dari suku Sahu dan tari Soya-Soya dari Maluku Utara. Karya ini adalah ungkapan dan optimisme yang kuat bahwa penghancuran terumbu karang di laut akan berhenti, bahwa ikan akan kembali sekali lagi ke karang dan bahwa keheningan di lautan akan dipulihkan.

Cry Jailolo merupakan karya koreografer Eko Supriyanto yang ditampilkan dalam sebuah festival besar untuk mempromosikan pariwisata di Jailolo, yang merupakan tempat tinggal beberapa menyelam terhebat dunia namun juga sebuah wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.

Selama berada di pulau Jailolo, Eko mulai melihat masyarakat dan perairan sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar promosi wisata. Dia mulaiberinvestasi terhadap masyarakat, bekerja dengan pemuda yang tinggal di beberapa daerah yang tertinggal. Dipengaruhi oleh hubungan dan pengalaman dunia bawah laut, Eko mulai mengembangkan tarian kontemporer dengan beberapa remaja yang terpilih, menjadi Cry Jailolo, sebuah karya "silent tourism". Cry Jailolo memberi suara pada komunitas terpencil di Halmahera Barat melalui pertunjukan, melalui kapasitas dan dedikasi oleh remaja ini.

Berdasarkan dari sebuah wawancara dengan salah satu penari Cry Jailolo pada hari Sabtu, 2 September lalu, Graetsia Yobel Yunga mengatakan bahwa para penari dari Cry Jailolo sudah siap untuk tampil di panggung megah SIPA 2017.

“Untuk latihan, kami sudah berlatih tarian ini sejak beberapa tahun yang lalu dan juga sudah kami bawa ke tour Eropa dan Asia di tahun ini. Untuk SIPA 2017 kami hanya tinggal memerlukan orientasi panggung saja”. Sajian Cry Jailolo akan tampil pada hari pertama SIPA (7 September 2017), sekaligus hari dimana sang maskot SIPA 2017 akan menampilkan sajian opening yang spektakuler dengan judul UPPER. (5/9)

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda