Sabtu, 25 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

Daniel Tito, Penulis Ribuan Skenario dan Otak Dibalik Film Nommensen

Penulis :
Senin, 05/10/2015 15.30.51 | Dibaca: 5249




Daniel Tito, Penulis Ribuan Skenario dan Otak Dibalik Film Nommensen

twitter.com/daniel_titto


Compusiciannews.com -Film- Berawal dari masa lalu yang cukup kelam dimana tahun 1997 saat dia masih duduk di bangku kuliah, Daniel Tito, pria berumur 37 tahun asal Jakarta terjebak dalam dunia narkoba dan sudah berkali-kali mengalami OD (Overdose) dan hampir kehilangan nyawa berkali-kali pula dan saat ini pria berumur 37 tahun, asal Jakarta itu  mengalami perubahan hidup dengan berhasil menciptakan karya-karya film nasional melalui tulisan-tulisan tangannya.

Pencapaian ini diawali karena dia ingin mengalami perubahan hidup setelah dia bertemu pembimbing rohaninya saat dia masih kecil, dimana Tito, panggilan akrabnya, melihat ada kedamaian dalam diri pembimbing rohaninya itu sampai suatu ketika, Tito diajak tampil oleh pembimbing rohaninya itu dalam sebuah ibadah di gereja dan dia menampilkan pertunjukan yang berbeda, dimana biasanya kalau di gereja, khususnya HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), sebuah sinode gereja konvensional bagi komunitas suku batak, menampilkan paduan suara atau Solo vocal, namun saat itu Tito dan teman-temannya menampilkan sebuah drama, dan karena tulisan Tito yang paling bagus, Tito dipilih menjadi sekretaris dalam penulisan naskah.

Menikah diusia muda karena sang kekasih hamil diluar nikah membuat dia harus berpikir keras bagaimana menghasilkan uang hingga akhirnya sang kakak memberikan info lowongan pekerjaan dari sebuah rumah produksi dan setelah mengirimkan hasil tulisannya, dia dipanggil untuk menjadi  asisten sekretaris sutradara, karena belum ada pengalaman membuat script film, dia harus mengikuti training selama 3 bulan dan semenjak itulah dia memulai karirnya menjadi seorang penulis skenario dan akhirnya membawa dia masuk ke Trans TV di tahun 2009 dan menulis skenario untuk beberapa sinetron disana.

Perjalanan karirnya sebagai seorang penulis skenario telah banyak membuahkan hasil, dimana dia telah menulis skenario untuk beberapa film box office Indonesia, seperti diantaranya  Bangku Kosong (2006), The Sexy City (2010), Terowongan Rumah Sakit (2009), Pacarku Kuntilanak Kembar (2012), Ketika Tuhan Jatuh Cinta (2014), dan Nenek Siam (2015). Selain film, dia juga telah menulis kisah-kisah FTV di SCTV, dan sinetron-sinetron RCTI, Indosiar dan MNC, salah satunnya adalah serial Ramadan 3 Semprul Mencari Cinta, yang salah satu pemerannya adalah Gading Martin.

Untuk projek terbarunya, dia akan membuat sebuah film bersejarah yang berhubungan dengan kebudayaan Batak, yaitu film dari seorang misionaris Jerman yang memiliki kontribusi besar bagi suku Batak, dan film ini berjudul Ludwig Ingwer Nommensen. Karena film ini begitu segmented dan terhitung jenis film baru di Indonesia, maka pembiayaan film ini dilakukan secara independen, dimana Tito dan timnya sebagai pencari dana banyak melakukan aktifvitas crowdfunding, salah satunya dengan mengadakan konser di sebuah kafe dan menampilkan beberapa musisi Batak, seperti Vicki Sianipar, Lea Simanjutak, Victor Hutabarat, Amigos dan juga ada Delon. Selain itu juga melaui pendanaan investor, dimana nantinya siapapun yang menginvest akan mendapat tiket premier, kaos, dan beberapa merchandise lainnya yang berhubungan dengan film Nommensen ini dan saat ini salah satu investornya adalah dari Tim Eagle Eyes, sekumpulan entrepreneur yang memiliki kerinduan untuk perubahan bangsa yang lebih baik.

Untuk proses Backsound film pastinya akan memunjukan musik khas tanah Batak sendiri dimana proses recording akan dilakukan dengan menggunakan instrument asli khas Batak yang kemudian akan masuk proses mastering dengan menggunakan teknologi DAW. Film ini nantinya akan dibintangi oleh aktor-aktor ternama, seperti Hamish Daud Wyllie yang akan memperankan tokoh sang misionaris, Ludwig Nommensen, kemudian ada Lukman Sardi yang memerankan Raja Batak, dan ada Surya Saputra yang akan memerankan Sisingamangaraja.

Cerita ini nantinya akan lebih menonjolkan unsur kemanusiaannya, dimana seperti yang banyak orang Batak ceritakan, tokoh Nommensen ini telah membawa sebuah perubahan bagi kaum suku Batak saat itu melalui pengajaran-pengajaran injil yang dia bawa kesana dan untuk mempertahankan keotentikan cerita, Tito dan kawan-kawan juga melakukan studi pustaka mengenai karakter tokoh-tokoh didalamnya dan juga rencananya akan melakukan survey hingga ke Medan dan bahkan sampai ke Belanda, dikarenakan menurut catatan sejarah yang dipaparkan Tito ke tim Compusician di café Hotel dimana dia menginap saat berkunjung ke Solo, peninggalan-peninggalan budaya Batak ternyata dibawa oleh penjajah Belanda saat itu.

Sebenarnya keinginan Tito membuat film Nommensen ini sudah cukup lama oleh karena dorongan sang ayah namun karena saat itu dia belum berani dikarenakan kurangnya pengalaman dan dana, maka film ini baru akan terealisasi saat ini dan melaui film ini dia punya visi untuk memberikan pesan mengenai kasih terhadap sesama di tengah-tengah kondisi dunia yang semakin individiualis dan selain itu dia juga memberikan apresiasi kepada Nommensen atas jasanya yang dia berikan bagi komunitas suku Batak di Indonesia. Rencananya film ini akan dirilis pada 2016 mendatang di seluruh Bioskop di Indonesia.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda