Minggu, 26 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

Budaya Digital Adalah Budaya Berkarya

Penulis :
Kamis, 05/11/2015 00.33.18 | Dibaca: 3291




Budaya Digital Adalah Budaya Berkarya

Eka Gustiwana seusai wawancara di Hotel Ibis Solo compusiciannews.com


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Rabu (04/11), Eka Gustiwana yang dikenal dengan karya-karya Speech Composing-nya yang telah didistribusikan secara luas di YouTube, berkunjung di kota Solo untuk menjadi narasumber di sebuah seminar di kampus seni di kota Solo, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang dimana dia bersama 2 narasumber lainnya berbagi mengenai budaya digital yang melahirkan budaya  untuk berkarya bagi masyarakat sekarang ini, baik itu dalam bidang musik, film, animasi atau hal-hal kreatif lainnya.

Dalam wawancaranya secara eksklusif dengan tim Compusician di Hotel Ibis Solo, Eka mengemukakan bahwa di jaman digital ini segala sesuatu menjadi mungkin dan hal ini secara otomatis mengubah kebiasaan gaya hidup seseorang dalam berkarya.

“Kayak misal film kartun, itu juga semua dibuat dengan digital termasuk saya, bikin speech composing juga digital.” Begitu jelas Eka kepada tim Compusiciannews.com

Sebelum menjadi seorang speech composer, pria kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1989 ini sudah memulai karir musisinya dengan menciptakan banyak jingle untuk beberapa perusahaan besar seperti PT KAI dan beberapa Bank, property dan juga lagu untuk beberapa artis seperti Nikita Wily untuk single pertamanya ‘Tetap Menanti’ yang menjadi soundtrack untuk sinetron ‘Putri yang Ditukar’ yang tayang di salah satu televisi swasta, kemudian dia juga membuat lagu untuk Syahrini dan Maudy Ayunda, namun meskipun  dia lama dalam menjalani karir musiknya,  namanya mulai melambung dan dikenal saat dia menjadi Speech Composer yang saat itu dia merilis karya pertamanya yang mengubah kemarahan Arya Wiguna, seseorang yang mengaku menjadi korban penipuan dari Eyang Subur yang kasusnya melejit di tahun 2013 lalu. Disitu Eka mengubah teriakan amarah  Arya Wiguna, ‘Demi Tuhan!’ menjadi sebuah karya musik yang dapat dinikmati.

Alasan Eka sendiri membuat karya speech composing ini dengan mengambil sample adegan kemarahan Arya Wiguna adalah dia merasa memiliki tugas untuk mengubah sesuatu yang tidak enak didengar menjadi sebuah karya yang indah yang intinya adalah mempositifkan hal-hal yang negatif kedalam sebuah bentuk karya musik.

Dia mengaku dalam proses speech composing ini memerlukan proses yang lama namun dia kerjakan sendiri, dimulai dari riset materi, bahkan dia harus mendengarkan dan melihat berkali-kali video materi yang akan dia buat ke speech composing, kemudian tahap kedua dia harus melagukan apa yang dia teliti sebelumnya, tahap ketiga dia harus menadakan lirik-lirik yang sudah dia pilih, tahap keempat dia buat musiknya dan terakhir adalah proses editing video.

Dalam pembuatan speech composing, tentunya dia memakai banyak software yang tergolong dalam Digital Audio Workstation dan dia memakai Studio One PreSonus, tidak hanya cukup menggunakan satu software Studio One saja karena software itu hanya sebatas mempercepat audio atau melambatkan dan dia perlu alat yang dapat menaik-turunkan nada yang dipasangkan dalam Studio One, yang bernama Melodyne yang merupakan software Pitch Correction untuk membenarkan nada yang diluar tune atau lebih dikenal dengan auto-tune.

Dan saat ini dia juga membuat karya baru berupa mash-up yang merupakan teknik menggabungkan lagu yang berbeda menjadi sebuah satu karya musik, yang seperti kita tahu karya-karyanya seperti kumpulan lagu-lagu soundtrack kartun 90an, soundtrack sinetron 90an dan yang terbaru adalah mash-up 2 lagu milik Carly Rae Jepsen dan Dewa 10 “I Really Really Really Like You/Kamu lah Satu-Satunya” yang dia berduet bareng musisi youtuber asal Amerika Serikat yang juga cukup melambung dengan karya-karya mashup-nya, Sam Tsui yang datang ke Jakarta bulan lalu.

Dalam duet mash-up ini, Eka menambahkan sedikit nuansa Indonesia dalam musiknya dengan menambahkan suara gamelan serta suara sinden yang dibawakan oleh  Nadya Rafika yang merupakan rekan  duet Eka Gustiwana di setiap karya mashup-nya akhir-akhir ini. Dan juga dia memiliki projek baru lainnya, yaitu Music is Everywhere yang dimana dalam projek ini Eka berkolaborasi dengan  semua orang dia jumpai di jalanan dan meminta mereka untuk bermain musik dan bernyanyi yang kemudian dia proses kembali hingga menjadi sebuah karya musik yang indah.

Akhir-akhir ini juga Eka banyak bekerjasama dengan komunitas YouTuber yang berdomisli di Jakarta, salah satunya adalah komunitas Last Day Production yang sering membuat video-video komedi realita dan Eka membantu untuk aransemen musiknya dan  di dunia pendidikan Eka juga sering memberikan beberapa pelatihan musik bagi para siswa sekolah dan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Harapannya untuk industri musik Indonesia para komunitas kreatif muda Indonesia ini harus lebih banyak belajar lagi untuk dapat mengharumkan bangsa dan mulai menghargai setiap karya musisi tanah air dengan tidak membeli produk bajakan atau kalau jaman sekarang lebih memilih unduh gratis dari situs pembajakan.  

Berikut ini video mashup Sam Tsui, Eka Gustiwana, dan Nadya Rafika “I Really Really Really Like You / Kamulah Satu-Satunya”

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda