Minggu, 26 Mei 2019

Music Technology Lifestyle

7 Keistimewaan Terselubung di Balik Musik Klasik

Penulis :
Kamis, 05/02/2015 09.00.16 | Dibaca: 2139




7 Keistimewaan Terselubung di Balik Musik Klasik

compusiciannews


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Bayangkan mata Anda terpejam, dan Anda mendengar musik klasik yang Anda sukai. Lalu rasakanlah kenikmatannya, itu hal yang paling dasar dan esensial. Sudah tentu Anda tak akan bisa membuat sama persis seperti yang telah dilakukan komponis besar masa silam. Setiap era pada sejarah musik Barat mempunyai ke-khasan tersendiri, dan dalam rentang waktu yang cukup lama, para komponis itu berjuang mengabadikan sesuatu. Atas jasa para publisher, orkestra, pemain, kelompok musik, produser rekaman, ahli tata suara, dan diseminasi atas rekamannya, kita akhirnya begitu dekat dengan musik klasik. Simak tujuh keistimewaan terselubung di sebaliknya.

  1. Proses Penciptaannya

George Frederic Handel menganggap bahwa karya Oratorio The Messiah ciptaannya adalah karya yang murni mengalir begitu saja karena didukung ilham dari Sang Khalik. Kita tak bisa membayangkan, bagaimana karya dengan durasi cukup panjang itu seperti menghantarkan kita pada sesuatu yang sublim, bahkan transenden. Padahal pada zaman dahulu tak ada Sibelius (sotware untuk menulis notasi). Handel hanya “menerawang” bunyinya. Begitupun para komponis lain yang melahirkan karya-karya besar: Haydn dengan ratusan Simfoni, puluhan dari Mozart, juga belasan Simfoni Shostakovich yang terkenal sulit dimainkan, dan seterusnya. Semua berdurasi panjang. Mereka menghabiskan banyak tinta pada masa itu, dan ketika karya itu berbunyi, kita makin dibuat tak percaya: bagaimana membuatnya?

  1. Keabadian

Kebiasaan akan menjadi sebuah tradisi, dan tradisi akan menjadi sebuah legenda. Tidak mudah untuk membuat karya musik “tetap hidup” selama ratusan tahun, dinikmati oleh milyaran orang di seluruh dunia, serta dijadikan metoda untuk beragam pendidikan lintas budaya, bahkan untuk menyembuhkan sakit jiwa. Apa yang terjadi pada fenomena musik klasik telah membuktikan hal itu, dimana ke-abadi-an musik klasik itu menjadi keistimewaan yang tak terbantahkan oleh siapapun. Beethoven sendiri pernah berujar: “Apabila aku mati, karyaku akan tetap hidup selama-lamanya”. Maka, Simfoni No. 9, sebagai puncak kekaryaan Beethoven untuk mengantarkan kemangkatannya sendiri, adalah salah-satu bukti oto-ramalan yang ketika kita mendengarkannya, kita justru di bawa pada masa depan. Apakah kita berani menyampaikan seperti yang dikatakan Beethoven?

  1. Orisinalitas

Para komponis besar menciptakan karya tanpa berpikir apakah yang mereka buat benar-benar asli atau KW2. Namun ketika dimainkan, kita akan merasakan perbedaan yang begitu kentara antara satu komponis dengan komponis lainnya. Bartok, Kodaly, Liszt, sama-sama dari Hongaria, tetapi dengarkanlah perbedaan gayanya. Haydn, Mozart, Beethoven, kemudian dilanjut Schoenberg, Berg, dan Webern, menunjukkan revolusi besar dari kerja orisinalitas yang mandiri serta pada kemudian hari memantik para komponis lain untuk menemukan cita-rasa yang khas dari musik-musik yang dibuatnya. Erik Satie dan Debussy menggambarkan “silatan lidah” yang rumus-rumusnya unik dan akan begitu mudah kita menebak, yang mana Satie, dan yang mana Debussy. Elgar sangat khas Inggris.

  1. Proporsi

Keseimbangan antara ketrampilan teknis, penghayatan, dan hasil karya menjadi penentu yang tak akan pernah habis dibahas oleh buku-buku analisa musik. Para komponis besar bekerja seperti layaknya membuat sebuah sistem pengaturan jalan-raya yang meminimalisir kecelakaan lalu-lintas. Apakah mood bisa menjadi alasan dari 600-an karya Mozart yang tetap dilahirkan sepanjang waktu, hingga ia mati pada usia yang relatif muda (30-an tahun). Apa rumus untuk menjaga sesuatu agar tetap seimbang? Kita tak pernah mampu menjawabnya.

  1. Jangkauan Bunyi (Frekuensi)

Range dinamika yang luas pada karya-karya Simfoni menunjukkan bahwa musik seperti sebuah lapisan atmosfir yang satu sama-lain membentuk jalinan sinergis: punya maksud dan tidak terpisah. Mendengarkan musik klasik dengan pengeras suara yang berkualitas rendah (penangkapan frekuensinya) tak akan pernah bisa berhasil menangkap semua kejadian bunyi dalam karya-karya Simfoni. Maka segeralah ganti speaker Anda, dan dengarkanlah karya-karya musik klasik pada saat kondisi lingkungan tengah hening. Yang mengherankan lagi, manusia bisa memainkannya, dari suara yang begitu lembut, hingga yang menggelegar membuat kaca jendela bergetar. Sekaligus hal ini akan bisa melatih kita untuk mendengarkan secara mendalam (deep listening).

  1. Keseriusan Berkarya

Kematian yang “tiba-tiba” menjadi ancaman sekaligus tantangan besar bagi para komponis. Bach mengalami kebutaan. Beethoven mengalami ketulian. Satie merenung sendiri di kursi memandangi lautan. Tchaikovsky hanya sampai 53 tahun karena diserang kolera. Berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk bekerja dan bekerja secara serius. Bisa jadi mereka lupa kesehatan, tetapi itulah dedikasi mereka. Dedikasi yang serius untuk sesuatu yang abadi. Apakah kita berani mati hanya untuk keabdaian karya kita? Oh tentu saja tidak. J

  1. Menghibur Sekaligus Mendidik

Karya-karya musik klasik sudah tentu menghibur sekaligus mendidik. Tidak mengherankan bahwa dari pikiran kita yang kadang-kadang rumit akibat sesuatu yang terkategorisasikan dalam bingkai konsepsi, mendadak luluh ketika mendengarkan musik klasik yang lembut dan nyaman di telinga. Menghibur karena sejenak lepas dari beban, dan mendidik untuk perasaan supaya lebih sabar. Musik yang bertahan ratusan dasawarsa sudah sendirinya berbicara dan bermanfaat tanpa dibumbui kata-kata berupa “tujuan dan manfaat” dari musik yang begitu klise terdengar.

Sudah tentu masih banyak keistimewaan lain seturut pandangan Anda, silakan menambahkan sendiri. 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda