Jumat, 28 Juli 2017

Music Technology Lifestyle

Mengungkap Jati Diri 'Artis Palsu' Spotify

Penulis :
Rabu, 12/07/2017 13:47:03 | Dibaca: 94




Mengungkap Jati Diri 'Artis Palsu' Spotify

slashgear


Compusiciannews.com -Distribusi-Isu 'artis palsu' Spotify? Sebenarnya itu hanya isu belaka karena kenyataannya 'artis palsu' sebenarnya adalah 'artis yang sesungguhnya'. Hanya saja mereka mempunyai nama samaran yang tidak terbaca oleh para penikmat setia Spotify. Spotify telah membantah semua tuduhan itu. Sebagian orang bahkan tidak mempermasalahkan apakah pihak Spotify melakukan kebohongan publik atau tidak, dikarenakan beberapa produser telah dibayar untuk membuat sejumlah track piano yang dinamai "Julius Aston" pada covernya.

Akan tetapi, Bernie Papaschwartzky mempunyai pandangan berbeda tentang isu ini. Dia menganggap bahwa pihak Spotify telah bekerja sama dengan Julius.  Di sisi lain, Bernie dibayar untuk pembuatan musik latar piano. Namun pada kenyataannya, dia mungkin sedang membuat musik latar yang lain untuk beberapa iklan saat ini dan Bernie mendapatkan bayaran. Hal tersebut sepuluh kali lebih menguntungkan daripada mengunggah musik melalui Tunecore atau beberapa label musik lainnya dan hanya mendapatkan $0,0005 sekali putar.

Spotify (atau siapapun itu) hanya memilih satu susunan hak cipta yang berbeda. Di skenario B, Spotify mengatur hak cipta, dan Spotify akan membayar dimuka untuk keuntungan itu. Sama halnya dengan para musisi musiman, penulis-penulis tak kasat mata, dan drummer 'nomaden'. Seperti halnya dua orang dewasa yang berpura-pura menyetujui suatu kesepakatan dengan aturan main yang mereka buat sendiri. Di tambah dengan isu royalti, gugatan palsu, atau omong kosong lainnya.

Sedangkan para 'artis palsu'? Para subscirber dari platofor streaming ini rata-rata  tidak peduli. Mereka hanya peduli dengan apa yang mereka dengar.

Spotify pasti sudah melakukan hal yang jauh lebih dari ini. Kenapa? Karena sekarang Spotify tidak mempunyai model bisnis yang tetap. Dan hal itu sukses membuat Wall Street membenci mereka. Dan kenapa mereka tidak mempunyai model yang tetap? Alasannya adalah mereka membayar 80% lebih dari pendapatan royalti mereka. Kemudian mereka harus mendistribusikan 20% dari hasil mereka untuk pemegang konten.

Jadi, kenapa Spotify tidak membuat konten mereka sendiri? Maaf, mungkin anda membenci kenyataan bahwa fakta ini terkesan 'mengkhianati' para musisi  yang murni berjuang untuk mendapatkan popularitas namun lagu-lagu mereka tetap tidak dapat masuk dalam playlist. Namun, hal ini menguntungkan bagi beberapa produser yang karya-karyanya berhasil menempati playlist di Spotify. Dan terus terang, produser tersebut kemungkinan mendapatkan bayaran yang lebih banyak, mendapatkan pembayaran dimuka, dan jauh lebih bahagia karena skenario tersebut.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda

  • Terbaru
  • Terpopuler